Perilaku Buruk Akan Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

0
33

Manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk itulah mengapa disebut manusia tidak ada yang sempurna. Tidak ada manusia yang hanya memiliki kebaikan saja, dan tidak ada manusia yang hanya memiliki keburukan saja.

Dapat dikatakan, secara lahiriah manusia adalah makhluk yang lemah, manusia memiliki kecenderungan terhadap hal kebaikan dan juga keburukan. Di saat kondisi lemah, maka manusia akan mudah tergoda untuk mengikuti jalan kemaksiatan dan juga penyimpangan, keburukan yang akan mendorongnya berbuat zhalim dan juga melampaui batas.

Sebagaimana, setan akan selalu menjadikan berbagai bentuk kemungkaran sebagai sesuatu yang tampak indah dalam pandangan manusia lemah dan perbuatan yang menyimpang akan dianggap sebagai perbuatan yang baik.

Namun unsur kebaikan yang terdapat dalam diri manusia dapat menggerakkan hati nurani dan akan menyadarkan dirinya untuk menyesal, serta memotivasi untuk kembali kepada jalan yang benar dan mengikuti akal sehat.

Setiap manusia pasti memiliki kemampuan, keseriusan, dan juga ketulusan hati yang berbeda-beda.

Dan di antara mereka juga terdapat orang yang selalu berusaha untuk mengikuti jalan kebaikan, menjaga prinsip dan etika, melakukan perbuatan yang mulia, mampu menahan diri dari syahwat dan keinginan yang menyimpang, serta bisa memperkuat dirinya untuk selalu istiqomah dan berada dalam bingkai kebenaran.

Orang yang demikian itu akan mudah untuk menghadapi keburukan, dan dengan cara tersebut maka segala apapun jenis kesulitan akan mudah untuk diselesaikannya, selain itu mereka juga tidak kehilangan harapan dan keyakinan bahwa yang baik akan selalu menang dan yang buruk akan sirna.

Selain itu terdapat juga orang yang selalu mengikuti keinginan buruknya, dia tidak dapat menjaga dirinya untuk senantiasa berbuat kebaikan, banyak mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya, merasa lemah ketika menghadapi keburukan dan mereka tidak memiliki harapan bahwa kebaikanlah yang akan menang.

Sekarang ini banyak sekali manusia yang mengikuti tindakan keburukan yang mereka anggap sebagai kebaikan atau hal yang biasa saja. Mereka terkadang berpikir cuek dan acuh akan nasehat kebaikan.

Mereka tidak berpikir dua kali kalau sebenarnya perbuatan mereka tersebut tidak hanya berdampak buruk untuk diri mereka saja, melainkan akan berimbas bagi orang dekatnya atau keluarga mereka juga.

Sebagai contoh orang yang masih lajang/gadis/jomblo, bila mereka melakukan sebuah keburukan mungkin hanya akan berdampak pada dirinya dan juga orangtua mereka saja.

Contoh seorang lajang melakukan tindakan menyimpang atau keburukan berupa kumpul kebo/pergaulan bebas, saat masyarakat dilingkungan mereka mengetahui maka dia akan mendapatkan imbalan kejelakan berupa direndahkan atau mungkin menjadi bahan olok-olokan dan nama baiknya akan hilang, dalam artian orang akan menganggapnya sebagai orang yang tidak benar.

Akibat dari perbuatan tersebut nama baiknya akan hilang dan selain itu juga akan berdampak pada nama baik orangtuanya, saudaranya, teman-temannya serta orang-orang yang dekat dengannya.

Lebih parah lagi bila yang melakukan kebururkan tersebut adalah orang yang sudah berkeluarga atau sudah berumah tangga karena dampak yang akan ditimbulkan menjadi sangat besar apalagi bila orang tersebut sudah memiliki keturunan/anak, ini akan sangat berbahaya bagi nama baik dan masa depan anak tersebut.

Bisa jadi anak tersebut akan dikucilkan dan tidak diperbolehkan bergaul dengan anak-anak lain karena masyarakat dilingkungan sekitarnya sudah tidak mempercayai orangtua anak tersebut.

Selain itu dampak bagi mental dan psikis anak akan terlihat saat anak tersebut mulai tumbuh dewasa. Mungkin juga anak tidak akan memiliki kepercayaan pada orangtuanya. Kalau hal ini sampai terjadi maka anda adalah orang yang benar-benar merugi.

Dampak bagi keluarga juga akan dirasakan oleh suami/istri, orangtua, saudara, teman, tetangga dekat dan orang-orang yang berada di dekatnya akan dianggap sebagai orang yang tidak mampu mengajari atau memberikan contoh yang baik yang berimbas pada menurunnya rasa percaya dari masyarakat luas.

Oleh karena itu, sebagai manusia berhati-hatilah dalam bertindak dan berpikirlah kembali sebelum melakukan sesuatu apapun. Karena setiap sebab pasti akan ada akibat yang ditimbulkan.

Mungkin bagi yang hidup sendiri, sudah tidak ada orangtua, sudah tidak punya saudara, belum berkeluarga dan belum meliliki anak, apapun yang dilakukan tidak akan berpengaruh pada orang lain karena hanya dia yang akan menanggung resikonya sendiri.

Namun bila kita masih punya orangtua, saudara, anak, teman, tetangga, Apapun yang kita lakukan juga akan berimbas pada mereka semua. Mungkin kita tidak malu dan bisa acuh atau cuek dengan pendapat orang lain tentang kita (terserah gua lah hidup-hidup gua). Tapi coba ingatlah keluarga, saudara, suami/isteri atau mungkin anak kita yang akan menanggung malu dikemudian hari karena ulah kita.

Maka dari itu marilah kita untuk senantiasa mengingat keburukan yang sudah kita lakukan sebagai kendali atau kontrol untuk lebih berpikir jernih sebelum kita melakukan sesuatu.

Semua hal tersebut tergantung dari kesungguhan (mujahadah) seorang hamba untuk melawan keinginan dan hawa nafsunya yang buruk agar mendapatkan petunjuk dari Allah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سُبُلنا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. al-‘Ankabut : 69).

Terdapat syair yang indah dari Ibnul Qayyim – semoga Allah merahmatinya, tentang mujahadah, beliau berkata:

يا أقدام الصبر احملي بقي القليل تذكّر حلاوة ( العبادة ) يَهُن عليك مُرّ المجاهدة

“Wahai tapak-tapak kesabaran, pikullah, hanya tersisa sebentar lagi. Ingatlah manisnya ibadah, niscaya akan ringan bagimu beratnya perjuangan (mujahadah)” (Al-Fawa’id).

اخرج إلى مزرعة المجاهدة واجتهد في البذر واسق شجرة الندم بساقية الدمع فإذا عاد العود أخضر فعد لما كان

“Pergilah menuju lahan mujahadah, bersungguh-sungguhlah dalam menanam, airilah pohon penyesalan dengan curahan air mata. Apabila dahan pohon telah tumbuh menghijau, maka panenlah hasil yang ada” (Bada’i ‘Al-Fawa’id, 3/742)

Ibnul Qayyim juga berkata,

المحبة صدق المجاهدة في أوامر الله وتجريد المتابعة لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم

”Cinta adalah ketulusan untuk bersungguh-sungguh mematuhi semua perintah Allah dan memurnikan keteladanan terhadap sunnah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam” (Thariq Al-Hijrotain , 1/460).

من ترك المجاهدة بالكلية ضعف فيه باعث الدين وقويَ فيه باعث الشهوة ومتى عود نفسه مخالفة الهوى غلبه متى أراد

“Barangsiapa yang tidak total ber-mujahadah, maka motif untuk konsisten beragama akan melemah dan motif mengikuti hawa nafsu akan menguat. Namun ketika ia membiasakan jiwanya menentang keinginan hawa nafsu, niscaya dia mampu mengendalikan jiwanya sekehendak hati” (Uddat As-Shabirin, 1/46).

Ingatlah, seorang mukmin yang bermujahadah akan mengetahui bahwa kebaikan akan senantiasa abadi dan menang, meskipun kegelapan semakin kelam, musibah semakin besar, keburukan semakin merajalela, dan setiap batasan semakin banyak dilanggar.

Namun hanya Allah-lah tempat untuk memohon pertolongan.

Semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari sifat buruk dan didekatkan dengan kebaikan. Amin

baca juga cara setan menjerumuskan manusia bodoh dan manusia pintar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here