Kisah Sedihku Kasih Orangtua Sepanjang Masa

0
62

Kasih Orangtua Sepanjang Masa

Saya adalah anak yang terlahir dikalangan keluarga yang sederhana, mungkin dapat dikatakan kalangan kebawah (miskin). Dari kecil saya dididik oleh orang tua dengan kesederhanaan.

Pada tahun 1988 saya berusia 6 tahun dan mulai bersekolah di taman kanak-kanak. Saya tergolong anak yang manja karena setiap apa yang saya mau harus dituruti sedangkan saya belum berpikir bahwa ayah dan ibu saya merupakan seorang petani biasa, yang tentu saja untuk urusan ekonomi mereka harus berjuang keras untuk menghidupi keluarga.

Saya adalah anak terakhir dari delapan bersaudara. Kakak pertama dan kedua saya laki-laki dan kakak yang lainnya adalah perempuan, jadi kami 8 bersaudara 3 laki-laki dan 5 perempuan. Namun sekarang hanya tersisa 6 bersaudara karena kakak saya yang pertama dan nomor 5 telah pergi mendahului kami.

Kasih Sayang Ibu Tidak Terbatas

Kembali kecerita saya, saat saya sekolah di taman kanak-kanak tersebut, saya setiap hari selalu didampingi oleh sosok yang selalu setia menjaga dan mengurus saya entah bagaimanapun nakalnya saya namun beliau tetap sabar dan ikhlas untuk mengingatkan, mengajari dan mengikuti semua yang saya mau, dialah Ibu saya.

Sosok wanita tegar yang tak pernah marah saat saya sedang marah, menangis, ataupun membuat kesal. Dialah wanita terhebat yang takkan mungkin ada duanya.

Saat saya sedang menangis karena pelajaran yang susah atau saat saya bermain namun tidak dapat menyelesaikannya, beliau dengan sabar dan penuh kasih sayang menghibur agar saya tidak menangis.

Bahkan sampai saya menginjak kelas satu, beliau masih setia menunggu dan menjaga saya diluar kelas. Sekarang saya baru sadar, betapa dulu saya begitu manja pada Ibu, setiap ada pekerjaan atau hal yang saya tidak bisa, selalu Ibu yang saya marahi sedangkan Ia tidak tahu menahu masalahnya, namun Ia tetap sabar mengurusi saya tanpa menaruh rasa sakit hati ataupun marah. Luar biasa (terima kasih Ibu).

Mengenal Dunia Baru

Pada tahun 1994 saya lulus sekolah dasar dan melanjutkan pendidikan di sekolah menengah atas (SMP), saat itu saya berusia 12 tahun saya mulai mengenal kehidupan baru mulai berbaur dengan berbagai macam siswa dari berbagai daerah dan saya tidak lagi didampingi oleh Ibu saya.

Rasa takut, cemas dan bingung menghantui perasaan saya karena ini pertama kalinya saya belajar dan jauh dari rumah saya.

Setiap pagi saat berangkat sekolah, saya naik angkutan umum dan suka mengikuti gaya teman-teman sekolah lain yaitu naik diatas bis atau angkutan umum, bukan didalam angkutan tersebut.

Seiring waktu berjalan, sayapun mulai mengenal banyak teman dan mulai berpikir sedikit berbeda, namun tetap saja setiap ada pekerjaan rumah (PR) yang saya rasa sulit untuk dikerjakan saya meminta bantuan dari orangtua saya, karena tingkat pendidikan Ibu saya yang kurang, maka untuk urusan pekerjaan rumah atau PR diambil alih oleh Bapak saya. Setiap ada PR yang saya rasa sulit dan tidak bisa mengerjakan, selalu Bapak saya yang saya suruh mengerjakannya.

Saat hari libur, saya sering bermain dan sering menonton televisi, namun karena pada saat itu dirumah saya belum ada televisi, maka saya menonton televisi di rumah tetangga yang tergolong orang kaya, pada saat itu baru ada televisi yang menggunakan aki karena listrik belum masuk ke desa kami.

Sehingga saat akan menonton televisi namun aki belum di cas, maka kami harus menunggu beberapa jam agar daya aki dapat penuh dan mampu untuk menyalakan televisi.

Sampai pada suatu saat listrik masuk ke desa kami dan hampir setiap rumah sudah terpasang aliran listrik.

Lalu saya punya pikiran untuk meminta dibelikan televisi pada orangtua saya, saat itu saya tidak berpikir bagaimana caranya orangtua saya mencari uang untuk membeli televisi untuk memenuhi keinginan saya, yang jelas saya mengharuskan dibelikan sebuah televisi agar saya semangat belajar.

Akhirnya sekitar dua minggu kemudian, datang sebuah paket dari jakarta yang dialamatkan kerumah kami dan setelah dibuka ternyata sebuah televisi bermerk Tosh*ba 14 inchi, betapa senangnya hati saya pada saat itu, karena permintaan saya terkabul orang tua saya membelikan televisi untuk saya.

Asik Bermain Lupa Belajar

Setelah itu, hari-hari saya gunakan untuk menonton televisi, bahkan sampai lupa makan dan mandi, sehingga Ibu saya pun menegur saya untuk tidak lupa belajar, namun saya tidak menghiraukannya.

Saat itu, semenjak saya punya televisi nilai mata pelajaranpun turun, dan guru sayapun sampai bertanya kenapa nilai saya jadi turun…

Bersambung… part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here