Kisah Sedihku Kasih Orangtua Sepanjang Masa part 2

0
81

Kisah Sedihku Kasih Orangtua Sepanjang Masa part 2

ini adalah Lanjutan kisah Sedihku Kasih Orangtua Sepanjang Masa

Nilai Mata Pelajaran Menurun

Ketika guru saya bertanya, sayapun terdiam dan tidak berani menjawab saya berpikir karena adanya televisi sehingga membuat saya jarang belajar, dan justru waktu saya habiskan untuk menonton tayangan televisi berjam-jam.

Akhirnya sayapun mulai merubah cara belajar saya yaitu dengan belajar sambil menonton televisi, alhasil bukanya pelajaran masuk keotak, namun lebih fokus pada tayangan televisi tersebut.

Hingga pada suatu hari saat mendekati ujian nasional, saya jatuh sakit dan Ibu saya mengajak saya untuk diperiksa ke dokter, dan dari hasil penelitian dokter ternyata saya terkena penyakit tipes yang yang sudah cukup parah, menurut keterangan dokter penyakit tersebut diakibatkan karena pola makan yang tidak teratur dan juga kurang istirahat.

Saya pun berpikir memang semenjak adanya televisi, saya jadi jarang makan dan waktu istirahatpun berkurang karena hampir setiap hari saya menonton televisi sampai jam 3 pagi.

Dan setelah itu sayapun benar-benar merasakan efek dari penyakit tipes tersebut, saya sampai tidak bisa berjalan karena badan saya terasa seperti orang melayang. Rasa mual, pusing dan panas dingin semakin saya rasakan.

Tidak terasa hampir dua bulan saya menderita penyakit tipes tersebut, bahkan sampai teman-teman sekelas saya datang untuk menjenguk saya dirumah dengan membawa surat dari kepala sekolah SMP tempat saya belajar.

Yang isinya bertanya pada orang tua saya, bahwa saya kalau mau melanjutkan sekolah diharapkan untuk berangkat dan mengikuti ujian akhir seorang diri.

Lalu dengan kondisi masih sakit, dan rasa yang tidak karuan sayapun memaksakan diri untuk berangkat dan mengikuji ujian akhir seorang diri dikantor guru, sedangkan teman-taman saya yang lain dibebas tugaskan ada yang sebagian tidak berangkat karena memang mereka sudah selesai mengerjakan ujian akhir selama satu minggu.

Dan alhamdulillah sayapun berhasil mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru dengan nilai yang tidak terlalu mengecewakan, dan saya dinyatakan naik kelas 3.

Dikelas 3 ini saya mulai merubah cara belajar saya yang tadinya malas-malasan menjadi sedikit rajin karena dari pihak guru kelas pun sudah memberi peringatan pada semua siswa untuk rajin belajar kalau mau lulus sekolah.

Akhirnya pada tahun 1997 saya dinyatakan lulus sekolah menengah pertama, dengan nilai yang cukup memuaskan.

Melanjutkan Pendidikan ke SMA

Kemudian ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan menengah, saat itu sebenarnya saya ingin sekali istirahat sebentar karena selama 10 tahun belajar dan waktu untuk bermain atau bersantai sangat terbatas, yaitu hanya sehabis sekolah.

Namun karena tekad ayah saya ingin menyekolahkan saya ke tingkat yang lebih tinggi dengan harapan kelak setelah dewasa saya bisa memiliki masa depan yang lebih cerah, setidaknya dengan ijazah yang yang saya miliki dengan lulus dari sekolah menengah atas kelak akan dapat bekerja di perusahaan dengan gaji yang tinggi, dan selain itu dengan adanya ijazah tersebut saya tidak bekerja sebagai buruh kasar ataupun hanya menjadi seorang petani biasa.

Melihat harapan ayah saya yang mulia tersebut sayapun terenyuh, beliau tidak menginginkan saya mengikuti jejak beliau yang hanya seorang petani sungguh cita-cita yang sangat mulia orang tua demi anaknya walaupun mereka adalah petani biasa, namun mereka berjuang keras agar saya dapat memiliki masa depan lebih baik dari mereka.

Mereka tidak peduli betapa susahnya mengumpulkan uang demi membiayai sekolah saya dari TK sampai SMP.

Kemudian dengan tekad yang bulat sayapun mendaftar kesekolah menengah atas, kebetulan tidak jauh dari rumah saya sudah didirikan sebuah sekolah SMA yang kurang lebih baru buka sekitar 2 tahun, saya mendaftar kesana dan alhamdulillah karena mungkin berkat do’a dan tekad dari orangtua saya saya pun langsung diterima disekolah tersebut.

Namun setelah diterima dan bersekolah di SMA rasa malas saya untuk belajar kembali hadir, apalagi jarak rumah saya kesekolahan tidak terlalu jauh. Setiap pagi saya bangun pukul tujuh kurang seperempat dimana jam pelajaran dimulai pukul tujuh lebih seperempat.

Sering sekali teman-teman saya menunggu didepan rumah untuk berangkat bersama, namun saya baru saja mau mandi.

Hampir setiap hari saya masuk kelas saat pelajaran sudah dimulai. Sampai-sampai wali kelas bertanya sambil bercanda kamu dirumah punya jam ngga sih?.

Punya Keinginan Merantau

Ketika pada suatu pagi, saya mau berangkat sekolah, saya melihat tetangga saya yang baru saja pulang dari perantauan (batam), dia sedang asik merokok didepan halaman rumah saya. Sayapun menghampirinya sambil bertanya, “pulang kapan boss? dia menjawab “kemarin” sambil menyodorkan rokok kesaya sayapun langsung mengambil rokok tersebut dan menghidupkannya, saya tidak peduli bahwa saat itu sudah jam tujuh tepat kelas sebentar lagi masuk.

Saya asik ngobrol dengan teman saya tersebut, sampai saya membayangkan seandainya saya juga seperti dia mungkin senang sekali, hidup bebas dapat uang merokok pun bebas karena dari hasil kerja sendiri.

Akhirnya pikiran tersebut selalu terbayang-bayang dibenak saya kapan saatnya saya lulus, saya akan merantau ke Batam untuk mencari pengalaman dan penghasilan.

Bersambung….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here