Belajar Menghindari Pujian dan Popularitas

0
180

Belajar Menghindari Pujian dan Popularitas

Sobat, di antara kebiasaan orang-orang shalih adalah: mereka berusaha untuk lari dari pujian manusia dan pengagungan mereka, serta membenci popularitas di kalangan manusia. Ini menunjukan keikhlasan mereka kepada Allah SWT, dimana mereka mencukupkan diri dengan pengetahuan Allah sajalah tentang keadaan mereka, dan hanya berharap pahala dari Allah terhadap amalan mereka.

Anda dapat melihat bahwa orang-orang seperti mereka tidak butuh pujian serta tidak butuh popularitas di antara sesama manusia. Mereka tidak mendambakan adanya pujian dan popularitas itu, bahkan mereka sangat membencinya. Mereka berharap menjadi orang yang tidak diperhitungkan di antara manusia, serta tiada yang memperhatikan amalan mereka selain Allah SWT. Namun ingatlah sobat Allah tidak berkehendak demikian, bahkan Allah SWT berkehendak agar mereka terkenal. Allah meninggikan kedudukan mereka, agar mereka banyak disebut di kalangan manusia, dan Allah meletakkan di hati para hamba-Nya kecintaan terhadap mereka.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa yang kaya lagi tidak menampakan dirinya” (HR:Muslim no.2965).

Kebiasaan Salafush Shalih

Kisah Uwais Al-Qarni, bisa dilihat kisahnya dalam Shahih Muslim (no. 2542):

Apabila kafilah dari Yaman datang, ‘Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka: “Adakah di antara kalian Uwais bin ‘Amir?” Sehingga suatu saat ‘Umar mendatangi Uwais dan minta agar Uwais memintakan ampun untuknya, karena Uwais adalah seorang tabi’in yang sangat berbakti kepada ibunya, dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa  jika Uwais berdo’a, do’anya pasti dikabulkan, maka Uwais pun melakukan apa yang diminta ‘Umar.
Kemudian Umar bertanya kepada Uwais: “Anda mau pergi kemana?”
Uwais menjawab: “Kuufah”,
Umar bertanya: “Perlukah saya tulis untukmu sebuah pesan kepada pegawai saya di Kufah (agar dia memenuhi kebutuhanmu)?
Ia menjawab: “Aku lebih senang menjadi manusia yang tidak diperhitungkan“.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku ingin jika manusia mempelajari ilmu ini, mereka tidak menisbatkan sedikitpun ilmu ini kepadaku” (Hilyatul  Aulia, 9/118).

Sufyan Ats-Tsauri berpesan kepada saudaranya: “Waspadalah, janganlah engkau  mencintai kedudukan, karena zuhud pada kedudukan itu lebih sulit dari pada zuhud pada dunia” (Hilyatul Aulia, 6/387).

Ibrahim bin Adham berkata: “Tidaklah tulus kepada Allah, orang yang mencintai ketenaran” (Hilyatul Aulia, 8/19).

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas:

  • Pesan di atas adalah menunjukan keutamaan “menghindari pujian”, serta tercelanya “cinta popularitas”.
  • Ketenaran yang tercela adalah “minta untuk terkenal”,  jika ketenaran itu datang dari sisi Allah SWT tanpa diminta, maka tidak tercela, hanya saja adanya ketenaran itu merupakan ujian bagi yang lemah imannya. (lihat: Mukhtasar Minhaj Al Qaasidin, 210).

Semoga kita semua dapat menjadi manusia yang lebih baik, ingatlah bahwa segala apa yang terjadi di dunia ini adalah karena kuasa Allah SWT.

Saat kita memiliki kedudukan atau jabatan tinggi, kekayaan dan popularitas ingat tetaplah menjadi hamba yang merendah jangan justru sebaliknya.

Manusia hebat bukan karena dia mampu mengungguli segalanya dari manusia lain namun manusia yang mampu menguasai diri mereka sendiri.

Dan ingatlah untuk Pantang Menyerah Menyebarkan Kebenaran karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang dapat mengajak manusia lain kepada jalan kebenaran sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan perintah Allah SWT.

Demikian, semoga dapat bermanfa’at

Makkah 06/4/ 1436 H.

Penulis: Nuruddin Abu Faynan
Artikel Muslim.Or.Id

sumber: https://muslim.or.id/24396-menghindari-pujian-dan-popularitas.html

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here